Tampilkan postingan dengan label kata hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2009

keindahan Purnama terjebak dalam ketenangan Malam

Barangkali sudah fitrah
lagu harus terpaut pada melodi
rembulan penyempurna malam
dan pagipun riang dengan nyanyian camar
merenda serpihan hati yang mungkinkah
sempurna dengan teduh senyummu utuh....?

Adalah hari temani mimpi
yang mungkin terbang bersama angin kepagian
adalah mimpiku bersamamu
untuk menelusuri dimensi surgawi kehidupan

Malam......
tamaram tanpa purnama
sekali lagi aku resah tak berbentuk
manakala senyummu hadir dikesunyian hati
oo....adakah rasa yang sama senada.....
senadakan ketelingsutan jiwa yang hampa
nan suakan hasrat seolah esok
merenda purnama kembali diteduhnya senyum malam

Ah....
Sekiranya sang malam bisa mengungkap
cahaya purnama yang bias,
Mungkin purnama tak seresah pungu' meratap dalam kesunyian yang tak bermelodi
namun hasrat seolah terhenti
ketika malam menandakan ragu yang membiru.

Jika malam tahu purnama tulus dan selalu tetap menerangi
walau awan menghalangi,
mendung menutupi,
akankah malam mengerti dan menguak rasa keraguan yang membiru...?
sehingga lagu tetap bermelodi.

Purnama terapung di jeda-jeda zaman penggilasan
tanpa pegangan pun tanpa lentera pembawa terang
hanya kesetiaan hati menerangi mimpi di ujung serpihan perjuangan di jogja
akankah makna purnama temui bersama tapak-tapak senyum malam...?

MENUJU KETENANGAN JIWA....?
LEBUR DALAM ILAHI SANG PENCIPTA MALAM DAN PURNAMA

Biarlah lagu terus.....dan terus menemukan melodinya
dalam keindahan purnama dan ketenangan malam.


wisma ambera jogja, jum'at 04 desember 2009

mba' Siti Aisyah di alam sana.dengarkan ade'mu ini yang sedang bertanya

saat malam mulai merampas hening
aku hanyut dalam heningnya.
ah ....dia selalu mmbayangi.
ah...aku tidak ingin jatuh cinta untuk saat ini
mba' Siti Aisyah.
tolong Ade'mu ni.
aku tahu,kamu tidak bisa membelai kepala aku yang penuh dengan isi
namun bisa aku rasa tanganmu yang lembut memegang pipi aku dengan kasih sayang di alam suci
aku telah mengenalnya sejak kecil namun tak sampai 1 bulan aku telah lebih mngenali.
dia beda dengan wanita lain & denyutan jantung aku tak pernah sekencang ini.
ketika melihat fotonya dalam sudut mataku.
ah gadis pondok berkerudung sungguh senyum kamu sangat bening di hati.
dia sangat pintar dan lebih pintar dariku.
sejenak aku larut dalam sejarah wanita yang pernah mengisi ruang di hati ini
kenapa aku di takdirkan menyukai wanita yang lebih pintar dari diri.
ah...
mba',tlong ade'mu ini.
q tidak ingin tertipu dengan denyutan sesaat ini.
seperti yang telah berlalu.
walau aku tahu aku tidak bisa menilai .
apakah ini denyutan sesaat atau tidak.


06/11/2009
di sudut net kota jogja

ketika rasa itu datang

ketika rasa itu datang
serasa tubuh yang mengakar
diri berdebar tak karuan

ketika rasa itu mengguncang
serasa dahsyatnya gempa pukul 05.55 wib selama 57 detik. 5,7 sk
hari sabtu 27 mei 2006 di jogja silam

ketika rasa itu meledak
sedahsyat bom2 teroris yang biadab

ketika rasa itu mengguncang
guncangnya seperti gunung merapi
yang mual dan akhirnya memuntahkan isi perutnya

ketika rasa itu menuntut
pikiRAN menjadi cerdas untuk memenuhi tuntutan

ketika rasa itu hadir
diri tanpa sadar terkurung dalam dimensi ruang dan waktu

ketika rasa itu datang
tak jarang manusia terus hidup karenanya

ketika rasa itu ada......

apa itu.....

itu adalah


CINTA..........

sang malam menertawakanku

semilir angin menghembus tulang
sepintas cahaya rembulan malu-malu dibalik tirai
cahayanya mengintip dari balik kelambu awan
serasa malunya seperti seorang desa

aku dengan ke akuan ku
sepi dalam keramaian
menundukkan hati
menyibak tirai hidup
yang seolah gelap

aku dengan ke akuan ku
mencoba menata yang seharusnya tertata
menyatukan serpihan-serpihan semangat
semangat yang perlahan terkikis atas satu nama
nama itu adalah WAKTU

waktu begitu cepat terasa di jogja
seolah diri terdekte oleh waktu
waktu dengan keangkuhannya
bergerak
bergerak tak kenal apa

aku dengan ke akuanku
menundukkan hati yang menganga
berbicara pada nurani
bukan untuk siapa-siapa...
bukan untuknya...
bukan untuk dia...
bukan untuk mereka...
tapi untuk ku
kepada nya
kepada dia
kepada mereka

aku dengan ke akuan ku
berbicara pada nurani
nurani yang terselubung oleh amarah
nurani yang terselubung oleh keinginan yang hampa.

nurani berkata
namun lebih tepatnya
MENGEJEK
atas diri
walau diri menyadari
semangat seorang manusia takkan selamanya
selamanya dalam semangat
pada titik tertentu akan mengalami fluktuasi
mengalami naik turun.
tapi diri menyadari
saat-saat tertentu diri tak bisa menerima kemunduran semangat.
untuk berkarya
untuk berbuat
untuk yang ada disekitar merasa senang
gembira, terlindungi,nyaman
dengan kehadiran diri.

tapi diri tak bisa ditolak mengatakan
semangat bersembunyi dalam waktu.
akan kah aku mencari semangat itu...?
di luar diri....?
namun kepada siapa...?
apakah kepada rembulan,...?
apakah kepada angin malam...?
apakah kepada sang bintang ...?
yang setia menemani sang rembulan..
apakah sudah saatnya ku mencari sesosok
siti khojidah yang dengan kelembutannya
menemani sang nabi Muhammad yang sok,gemetar, keluar keringat dingin,
sekaliber nabi yang terasa otak terhenti
logika tak kuasa
pikiran tak bisa berfikir
saat menerima wahyu pertama...

dengan kelembutan siti khodijah
nabi menemukan otaknya
nabi menemukan dirinya
nabi menemukan logikanya
nabi menemukan pikirannya
nabi menemukan obsesinya
nabi menemukan semangatnya

apakah sudah saatnya aku mencari sosok siti khodijah....?
apakah sudah waktunya...?
diri hanya bisa tertawa
ditemani sang malam yang mulai tergilas pagi
di temani bintang dan rembulan di atas sana
di temani angin malam yang menusuk tulang
seakan mereka berbisik.

semangat....!

Selasa, 01 September 2009

kegelisahan

pukul 14.30...
aku bangun dari tidurku
kebuka mataku
namun hati tak bisa ku buka
ada kegelisahan
entah itu apa aku belum tahu

pukul 14.40
aku mandi
badan lengket dan bau kurang sedap
ku guyur tubuh ini dengan air
segar dan segar terasa
namun kegelisahan dalam hati ini tetap bertahta
resah, tak menentu

pukul 15.00
setelah sholat ashar aku keluar kost
mencari apa yang menjadi kegelisahan
ayunan sepeda mengikuti kata hati
hati yang seharusnya bersinar
sekarang gelap dan tak bercahaya terasa
bingung hanya itu yang ada
resah hanya itu yang terasa

aku terus mengayuh sepedaku
yang telah lama menjadi sahabat
sahabat dalam kesunyian
sahabat dalam kesedihan
sabahat dalam kegembiraan

akhirnya setelah mengayuh sepeda
kata hati menghentikan langkah ayunan sepeda
terhenti di sebuah tempat
tempat yang sejak lama menjadi tempat perenunganku
perenungan di jogja
JEMBATAN BABARSARI

di sini rasa suntukku pun mulai luntur
oleh suara air yang mengalir
oleh air yang jernih
warna air menyejukkan mata terus turun ke hati

di sinilah aku coba membuka kesuntukkan hati
yang telah meracuni aku...
dan lambat laun suntuk di kudeta oleh jernihnya air...





Senin, 24 Agustus 2009

AGAMA KETERASINGAN

AGAMA KETERASINGAN

Ada seorang anak yang sejak kecil hidup dalam nuansa agama
Namun ketika umur menginjak kepala dua
Ia sadar, bahwa hidupnya dalam tirai keterasingan

Agama keterasingan

Dari kecil , ia hanya menerima doktrin agama
Menjalankannya dengan penuh taat
Karena dalam pikirannya, itu adalah kewajiban
Jika tidak dilakukan mendapat dosa, diancam oleh kejamnya neraka
Jika dilakukan mendapatkan pahala, dirayu oleh kemewahan alam surgawi
Suatu pikiran mekanikpun bertahta dipikrannya

Agama keterasingan

Ada seekor anak ayam yang masih dalam cangkangnya
Setelah umurnya cukup, ia pun ingin melihat dunia
Ingin mengerti hakikat dunia yang maha lus
Ingin melihat induk yang telah melahirkannya

Anak ayampun berontak atas tiran cangkang
Mendobrak, mencongkel belenggu cangkang
Sampai ia keluar dalam cangkang berserakan
Alangkah terkejut ia tidak bisa berdiri atas kakinya sendiri

Agama keterasingan

Nasib anak manusiapun tak jauh seperti anak ayam
Ingin keluar dari kehampaan
Karena ia jenuh atas kewajiban
Kewajiban yang menutup kakikat esensi
Kewajiban yang terasa kemunafikan
Ia pun menjadi pembangkang agama

Dalam bahasa karl marx:
Agama adalah candu msyarakat
Manusia kehilangan kesadaran duniawinya oleh ganjaran dan ancaman
Melakukan perbuatan hanya ingin mendapatkan surga
Takut kepada neraka.
Bukan takut pada yang membuat surga dan neraka
Bukan pula karena cinta pada Allah dalam bahasa Rabi’ah ad-dawawiyah

Agama keterasingan

hidup tak ubahnya air
mengalir dari hulu
berproses
menuju muara

agama menjadi asing
fase ini yang di alami anak manusia
sebuah pencarian jati diri sebagai manusia
diri sebagai Abdullah

apakah proses yang dialami anak manusia akan menuju pencerahan….?
Atau malah proses hanya berenang-renang dalam ruang yang hampa….?




Wisma ambera, jogja
22 agustus 2009

Kamis, 18 Juni 2009

DIRI YANG TERSADAR TERLUPA



bulir-bulir padi bergemericik,
oleh angin.
merunduk karena berisi.
daun-daun padi yang mulai menguning
oleh usia.
sejenak diri merasa jauh darI NYA
sejenak diri merasa terlupa hampa

Tuhan
ampuni aku dengan keakuan aku
yang melupakanmu

hampa..
hampa,,

diri merasa hampa.
dan diri tertolong oleh rahmatNYA
waktu ternyata menjadi perantara
untuk selalu mengingat
untuk selalu bertasbit kepadaNYA.

hari-hari berlalu seakan hanya rutinitas belaka
tak produktif
tak efektif
saat aku bersimpuh dalam sajadah
diri sadar akan sebuah nurani
nurani adalah akar
akar untuk menguatkan jiwa
jiwa yang akan memantapkan diri dalam melangkah.
kembali pada nurani
kembali pada nurani
kembali pada sang ILAHI
adalah tawaran yang tak bisa di tolak

suara santri2 setiap pagi di dekat kosku
menjadi perantara penghancur egoku
menjadi perantara diri sadar akan kebesaranNYA.

kini diri telah sadar atas yang terlupa
semoga sadar ini tak terlupa lagi

Tuhan,
kasihanilah hambamu ini yang begitu rapuh.
tetapkan diri selalu dalam rahmatMU
berilah hidayah selalu dalam setiap nafas berhembus.
tetapkan hati ku selalu SETIA HATI.

CINTAKU YANG RUMIT

cinta ku yang rumit...
adalah setapak jalan yang aku lalui
sebuah jalan yang terasa sulit
dan sebuah penantian yang harus terbelit

cintaku yang rumit...
mencari cinta yang hakikinya cinta
sebuah perjalanan yang harus aku tempuh
karena aku yakin itu

ketika waktu berhenti
aku teringat wanita2 yang sempat berada dalam hati
semua tak membekas suci
semua habis di telan waktu yang merenda

dia adalah wanita yang sangat dekat denganku
awalnya aku merasa itu bukan perasaan cinta
namun beriring waktu berjalan
rasa itu lestari dalam nurani

aku mulai berontak
aku mulai berhasrat akan sejatinya detak
karena setiap langkah
ada dia
karena setiap melihat kaum hawa
ada dia.

keinginanku mulai terpenjara karena status dia
waktu demi waktu terasa begitu lama
namun rasa itu tetap terpelihara
aku heran
aku tak percaya pada diri ku ini
apakah ini pelajaran dari sang kuasa
akan sebuah cinta sejati

tapi diri tak begitu percaya akan ini
karena hubungan ini bukan hanya atas 2 insan.
aku coba melupannya
dan aku berdo'a di atas sajadahku
hapuskan rasa itu...!
hilangkan rasa itu..!
tapi entah kenapa sampai detik ini aku tidak bisa melupakannya

apakah ini cinta suciku...?
apakah ini cinta sejatiku...?

kini dia tidak terikat
cintaku yang rumit
akan kah merenda ketidak rumitan...?
jika dia memang cinta suciku
permudahkan...!
jika tidak
jauhkan dan hilangkan rasa itu...!
agar diri tak tersiksa
namun jika dia adalah cinta suciku
aku tunggu dengan kesucian cintaku
walau akan beribu-ribu matahari terbit
sampai waktunya tiba
itu saja


Kamis, 04 Juni 2009

A A D S

kulari ke hutan kemudian menyayiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri aku benci
kuingin binar, aku ingin di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika ku sendiri
pecahka saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam jaring
laba-laba belang di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera
atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai.....

DIAM

Diam

lihatlah aku...
selalu terkadang diam membisu...
diam adalah emas..
ta' semua orang mengatakan itu...
tapi aku setuju...
diam membawa kedamaian...
diam membawa ketenangan...
diam itu mulia...
diam bukan berarti bisu...
diam bukan berarti menghanyutkan...
sejuta makna tersimpan di dalamnya...
seiring datangnya waktu...
semua orang akan tahu...
betapa tingginya arti diam..


(oum2, 2/9/8)

Rabu, 03 Juni 2009

tatkala jiwa merenda hasrat

terasa jiwa terbangun dalam terjaganya
terbangun atas ruang-ruang yang kosong
bukannya kosong sepenuhnya
tapi sepenuhnya tak sepenuhnya
akan karya
akan torehan langkah
untuk kemanfaatan diri
untuk kemanfaatan agama
untuk kemanfaatan di alam
untuk kemanfaatan manusia


diri merasa hidupku lebih banyak tertidur dari pada keterjagaannya
semoga ini tak terulang
karena hidup hanya sekali.

Selasa, 02 Juni 2009

aku terperangkap dalam wajah Garis berkerudung

ketika saat menunjukkan malam yang mulai tergoda oleh pagi
tamaram tanpa purnama
aku menyendiri dalam kesejukan hati
menatap cita yang terasa aneh
aku terperangkap dalam wajah gadis berkerudung
hati tak bisa diterjang oleh ombak2 bergelombang
di mana Hari selalu merindu
akan kehadiran gadis berkerudung

Berharap matahari kembali bersinar
Bualan semut-semut merah menipu
Karena tak ada yang saling menyatu

aku terperangkap dalam wajah gadis berkerudung
Serunai gadis berkerudung
selalu bertahta dalam hati ku
menjadi cita akan hasrat

aku terperangkap dalam wajah gadis berkerudung
entah kenapa...
seolah gadis berkerudung meremukkan hatiku
meluluhkan egoku
meluluhkan amarahku
terasa dingin
terasa sejuk
tatkala melihat gadis berkerudung.

aku terperangkap dalam wajah gadis berkerudung
aku rasa ini bukan karena aku terlahir di dunia pesantren....
aku rasa bukan karena umi ku berkerudung
aku rasa ini bukan karena diri tak menemukan wajah yang cantik
daripada gadis berkerudung.
ataukah ada kelainan dalam diriku......?

aku terperangkap dalam wajah gadis berkerudung
sejatinya aku suka gadis tak berkerudung
namun kesukaanku terhadap gadis tak berkerudung
terkalahkan oleh gadis yang berkerudung
terasa aku lebih menyukai
dirasa aku lebih menyayangi
berasa aku lebih mencintai

namun kenapa...?
akankah ada kelainan yang tak wajar dalam diriku....?
atau kah ini suatu berkah yang aku harus syukuri...?
jika ia...
adalah suatu berkah
biarlah diri tetap terperangkap dalam wajah gadis berkerudung.





Senin, 01 Juni 2009

jika Hasrat Hanya Terhenti di Angan


panas cuaca hari ini
terasa sejenak otak terhenti
mengenang jeruji-jeruji hati
yang terisi butir-butir terisi
terisi manusia-manusia yang penuh kreasi
yang telah menghampiri diri,

ada yang kreasinya terhenti di otaknya
ada yang kreasinya terhenti di hatinya
ada yang kreasinya terhenti di mulutnya
ada yang kreasinya terhenti oleh di luar diri dan kuasanya

terhenti oleh waktu yang tak memberi kuasa
terhenti oleh kesempatan yang tak memberi meruang
oleh kaki yang berpijak yang tak menginjak.

kini diri bertanya pada diri,
akankah kreasi diri hanya terhenti dalam bayang...?
atau akahkah kreasi menjelma dalam realita...?
dua pertanyaan sekaligus pilihan,

sebuah cacatan....
tidak lah berubah keadaan suatu kaum jika kaum itu tidak merubah keadaan itu sendiri,


Minggu, 31 Mei 2009

jika menjadi kakak harus siap menjadi tong sampah...!

hari-hari terlewati
dengan masalah2 mendera
dari diri sendiri
dari ade'2 aku
terpintas dalam pikiran
sungguh otak di penuhi dengan masalah terasa
otak yang sebenarnya terisi dengan organ2.
terasa organ2 itu hilang berganti dengan bermacam2 masalah.
rambut terasa keriting walau tak keriting
sampai diri hampir di ambang batas kesabaran.
terasa memory diri mengingat kata seorang mas ku.
"JIKA MENJADI KAKAK, HARUS SIAP MENJADI TONG SAMPAH".
tong sampah itu tidak memandang sampah apa yang masuk,
tidak bisa memilih sampah apa yang masuk,

SAMPAH YANG MASUK ITU:
sampah yang harum,
sampah yang setengah harum,
sampah yang bau,
sampai sampah yang amat teramat bau sekali,
bahkan baunnya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

SEorang kakak seharusnya demikian,
menjadi tong sampah untuk ade' 2nya.
pertanyaannya sekarangsiapkah menjadi tong sampah..?

Minggu, 24 Mei 2009

sebuah perjalanan

jogja saat ini tersirami air dari langit
yang lebih di kenal dengan hujan
hujan yang tak begitu lebat
dan juga tak bisa di bilang gerimis
intinya aga' lebat dan di atas gerimis
soalnya hujan bisa membuat tanah mengalirkan air di atasnya.

entah kenapa aku ingin nulis lepas saat ini
lepas dari kata yang bersajak lepas dari kata yang terbentuk
karena terasa badan ini kurang tidur beberapa hari ini
karena terasa otak ini kurang tidur beberapa hari ini
jadi kalau di sederhanakan
lemas, lelah, capek (atau apalah bahasanya) jasmani dan rohani.he...3x.
tapi inilah pilihan hidupku
tapi ini lah kehidupan yang aku pilih
karena hidup terlalu singkat di lalui dengan kekosongan
karena hidup terlampau sia di lalui hanya bergerak tak bermakna
kegiatan yang tak bermakna.

roni....omongannya kayak ustad aje....he...3x

lelah...lelah itulah aku saat ini
di balik itu kemaren ada sms masuk.
nomor baru di tanyak nama katanya mau nyebutinnya gugup.
smsnya pakek bahasa arab
aku ngerti artinya
ya mungin karena aku pernah mondok dan memang keluarku orang pondok.
he...3x tapi aku pura2 ga' tahu.
sms bertautan
saling jawab dan saling tanya.
di bilang penasaran aku tidak
tapi di bilang tidak ya penasaran
ya... biarlah siapa dia dari mana asalnya
aku terima sebagai sahabat
semoga aku bisa mendapat pengetahuan dari nya dan sebaliknya.
karena kayaknya nabi muhammad pernah bilang.
hee...3x.
"JANGAN LIHAT SIAPA DIA TAPI LIHAT APA YANG DI BICARAKAN".

tapi aku yakin seiring dengan berjalannya waktu nama kan terbit pada saatnya.
lepas dari itu aku punya bayang2 siapa dia mencermati kata dalm smsnya.
siapa dia ...he...3x.
tunggu episod selanjudnya...

MERENDA AKAR HIDUP




ketika rindu pada pandang tak berbatas
pada langit yang tanpa lapas
dan pada redup sang senja yang terhempas..

hati memuja ia yang hampa
Ia yang tak tau siapa
pada ia yang sempurna rupa
namun hampa

hati menekur jejak tanpa tuan
jalan sang angan
menemu ia yang disana
yang hampa

Siapakah ia?
Iakah pengeruh tanpa rupa?
Pengacau yang entah siapa..

Lalu apa?
Ia, hampa tanpa cela
Ia, hampa yang sempurna
tanpa tahu dimana..

di lepas malam yang terhimpit pagi
tamaram tanpa purnama aku sendiri
membelalakkan mata ini

dingin nya angin menerkam tulang yang tak belulang
gelapnya cahaya menenggelamkan terang
namun aku coba mengerakkan jari dalam remang2

sungguh kata yang indah
menuangkan serpihan hatimu yang merekah
merekahnya sampai berusaha meyakikan

hidup adalah kerahasiaan
kadang terasa menyenangkan
kadang terasa menyakitkan
kadang terasa hati berenang2 dalam ruang hampa
terasa hampa sampai tak mampu nafas menghembus

hati
adalah akar
akar yang kokoh
membuat pohon kan teguh
hati adalah hati
di mana sang mutiara bertahta

hati terselubungi oleh hawa nafsu
nafsu tak bisa dihilangkan
dengan nafsu itulah derajat manusia dilebihkan oleh sang kuasa
namun dengan nafsu juga derajat manusia kan lebih rendah melebihi serendah-rendah ciptaanNYA.
masa adalah proses
menuju kedewasaan berfikir


sejenak aku teringat sebuah kisah terkenal
kisah klasik islam pencarian yang berkerakal
kisah ibrahim mencati Tuhan Yang tersumbat tebal


hampa
adalah kata yang tak bisa ditolak
ketika akal tak mampu berbicara dengan galak
bulan, matahari, ternyata bukan Tuhan yang kekal


tercerahkan
adalah keadaan kemudian
terhembus dalam qolbu sang ibrahim yang terdiam

Tuhan yang berakar
memberikan hidayah yang sebenarnya benar
dan ibrahimpun menemukan apa yang tersirat kasar.

ternyata
pencarian2 misteri hidup begitu luas
serpihan2 diri sebagian kecil trjawab dengan lugas
serpihan2 dari sebagian besar ta' terjawab ternyata oh ternyata amatlah luas


ini lah misteri ilahi
yang sejenak menindih
namun ketika mata hati di telanjangi
jiwa sadar akan saatnya tiba pasti pertanyaan kan terkuak.
seperti apa?
dimana akar hidup berada?
semua pasti kan terjawab
oleh "SANG WAKTU".
karena waktu terus berjalan
karena mentari takkan meninggalkan bumi,
itu saja.
(rangkuman puisi dari diri dan dari)

Sabtu, 23 Mei 2009

jika masalah mendera bertubi-tubi


"sepiro gedhene seng soro yen tinompo among dadhi cubo".
Mas Imam Kusupangat.
(seberapa besar masalah jika di terima dengan lapang dada/ikhlas maka hanya menjadi cobaan saja). itu sedikit terjemahannya, agak kurang pas karena aku seorang madura walau lahir di jember. tapi aku bicara jawa aktif di jogja,
kata2 itu di populerkan ditengah PshT oleh Mas imam kusupangat. salah satu tokoh besar yang ikut serta mengibarkan bendera PshT.
masalah besar ataupun kecil jika di rasa hati lapang maka secara psikologis masalah itu terasa mudah. karena dengan rasa tabah dan ikhlas bisa mengurangi beban pikiran sehingga masalah itu terasa ringan.
saat ini, detik ini, menit ini, waktu ini, hari ini bulan ini, tahun ini.
masalah menjadi kawanku,
tak bosan-bosan menghampiriku.
sampai suatu ketika air mata tak bisa di bendung. keluar dari kelopak mata, jatuh di atas sajadah, ketika malam menunjukkan malamnya.
aku terasa rapuh dalam keteguhanku,
aku teresa lemah dan kuat ku
aku terasa kecil dalam besar ku,
saat otak membuka file2 lama
tergambar masalah keluarga.
masalah ortuku dengan saudara2nya
masalah warisan tanah keluarga,
masalah tempat ngaji yang kurang di tangani serius oleh paklekku
sehingga santrinya mengurang.
tak seperti waktu di asuh oleh kakekku
jika magrig datang lantunan2 ayat2 al-qur'an, lantunan shalawat2, keluar dari suara2 santri.
tak jarang kakekku menolak santri yang igin mengaji karena tempat ngaji tak muat.
sungguh sayang keadaan saat ini tak seperti dulu.
dan aku adalah tumpuan dari itu, tak jarang ketika aku pulang paklek2 ku bilang.
le...,
kalau udah lulus dari jogja kamu yang ngurus warisan kakekmu.
kamu generasi ketiga.
yang kami nanti karyamu.
kata2 itu teras menggema dalam hatiku bahkan dalam sendi2 tubuhku.

terasa beban awalnya
suatu tugas berat untuk membangun semangat mensyi'arkan agama islam.
melihat keadaanku saat ini.
keadaan yang tak bisa lebih,

namun tatkala wajah kakekku menyelinap dalam mimpiku.
rasa terasa oktimis
semangat terasa berlipat
semangat terasa membara
apa lagi mengingat kata2 kakekku
DI DARAH MU MENETES TOKOH2 BESAR DAN DI MATAMU KU LIHAT ITU.
namun aku tidak sepakat jika nanti kebesaranku karena keturunan,karena darah,
karena AKU INGIN BESAR KARENA DIRIKU SENDIRI,
itu saja,
masalah....masalah,.... masalah...
masalah....masalah..... masalah...
terasa yang membesarkanku.
masalah...
terasa yang membuat aku dewasa.
masalah...
terasa sebagai penguji imanku.
namun terkadang
aku seperti pohon yang tak berakar.
layang2 yang tak bertali,
rumah yang tak berpondasi.
namun ketika ingat sang pencipta
aku terasa seperti pohon yang berakar kuat.
aku terasa seperti layang2 yang bertali kawat.
namun kadang aku memohon kepada sang maha dari yang maha di jagat,
agar aku di ijinkan bila sudah tak kuat
merelakan air yang tersumbat
di kelopak mata untuk keluar
menumpuhkan rasa sedih yang mengakar
karena aku juga memiliki sisi lemah yang menjalar,
......!!!!!

Rabu, 20 Mei 2009

sawah


apa yang terbayang dalam benakmu?
jika melihat sawah...?

Jumat, 15 Mei 2009

ketika waktu memaksa

malam itu adalah malam tanpa purnama
aku berada di tengah-tengah manusia-manusia yang terasa lemah atas fisiknya
aku berada di tengah-tengah manusia-manusia yang terasa lemah atas dirinya
terasa lekukan-lekukan kelelahan di wajah mereka.
diri sadar sesadar-sadarnya atas diri
diri tak berhak dituakan
bukan tak mau tapi belum mampu untuk dituakan
tapilagi-lagi waktu memaksa untuk berada pada posisi itu

panggillan hati pun tak bisa menolak
ketika lontaran-lontaran kata menggaung bersama dengan mulut2 kehausan
sejenak hati merenda
akan sebuah pohon kelapa yang menantang langit
mungkin itu diskripsi ku saat ini
siap atau tidak
mampu atau tidak
harus MENGIKUTI IRAMA ALAM
harus MENGIKUTI IRAMA KEHIDUPAN.
tanpa harus hanyut
tanpa harus terarus.

jiwa-jiwa yang kelelahan
terasa tercabut atas akarnya
prinsip, semangat, obsesi, pun terasa meninggalkan diri.

mereka mementingkan kulit dari pada isi
itulah gambaran yang aku tangkap dari pada saudaraku
benar atau mendekati benar itulah yang dirasa
mereka lupa pasa AS pada hakikat makna sikap,
mereka lupa pada makna MELANGKAH. yang melambangkan huruf be' dalam huruf arab.
be'yang mempungai arti dengan. selanjutnya di kiaskan DENGAN MENYEBUT ASMA TUHAN dalam setiap langkahnya(bismllahirrohmanirrohim).
di sadari atau tidak itulah yang terjadi.
sampai kapan......?
sampai waktu menggilas....
atau sampai malaikat2 turun dari surga..
atau sampai sang pencerah datang....
atau kita hanya menganut paham menanti waktu...
ha....3x.
rasanya Tuhan akan murka karena Tuhan telah memberi akal dan nurani.
dan diri pun kembali berbicara pada hati
dimana sang mutia bertahta.

dan hati berucap...:

roni
apakah memang waktu memaksamu...?
apakah persepsi memaksa itu berubah menjadi sebuah kewajiban ...?
sebuah kewajiban memberikan apa yang kamu tahu atas ketidak tahuan..?
sebuah keharusan memberikan apa yang kamu tak tahu atas ketahuan..?

roni pun
tertidur bersama dengan pertanyaan2 itu.
sebuah pertanyaan yang kan menjelma dalam detik saat mata terbuka....


Rabu, 13 Mei 2009

MALAM

semilir angin menghembus tulang
sepintas cahaya rembulan malu-malu dibalik tirai
cahayanya mengintip dari balik kelambu awan
serasa malunya seperti seorang desa

aku dengan ke akuan ku
sepi dalam keramaian
menundukkan hati
menyibak tirai hidup
yang seolah gelap

aku dengan ke akuan ku
mencoba menata yang seharusnya tertata
menyatukan serpihan-serpihan semangat
semangat yang perlahan terkikis atas satu nama
nama itu adalah WAKTU

waktu begitu cepat terasa di jogja
seolah diri terdekte oleh waktu
waktu dengan keangkuhannya
bergerak
bergerak tak kenal apa

aku dengan ke akuanku
menundukkan hati yang menganga
berbicara pada nurani
bukan untuk siapa-siapa...
bukan untuknya...
bukan untuk dia...
bukan untuk mereka...
tapi untuk ku
kepada nya
kepada dia
kepada mereka

aku dengan ke akuan ku
berbicara pada nurani
nurani yang terselubung oleh amarah
nurani yang terselubung oleh keinginan yang hampa.

nurani berkata
namun lebih tepatnya
MENGEJEK
atas diri
walau diri menyadari
semangat seorang manusia takkan selamanya
selamanya dalam semangat
pada titik tertentu akan mengalami fluktuasi
mengalami naik turun.
tapi diri menyadari
saat-saat tertentu diri tak bisa menerima kemunduran semangat.
untuk berkarya
untuk berbuat
untuk yang ada disekitar merasa senang
gembira, terlindungi,nyaman
dengan kehadiran diri.

tapi diri tak bisa ditolak mengatakan
semangat bersembunyi dalam waktu.
akan kah aku mencari semangat itu...?
di luar diri....?
namun kepada siapa...?
apakah kepada rembulan,...?
apakah kepada angin malam...?
apakah kepada sang bintang ...?
yang setia menemani sang rembulan..
apakah sudah saatnya ku mencari sesosok
siti khojidah yang dengan kelembutannya
menemani sang nabi Muhammad yang sok,gemetar, keluar keringat dingin,
sekaliber nabi yang terasa otak terhenti
logika tak kuasa
pikiran tak bisa berfikir
saat menerima wahyu pertama...

dengan kelembutan siti khodijah
nabi menemukan otaknya
nabi menemukan dirinya
nabi menemukan logikanya
nabi menemukan pikirannya
nabi menemukan obsesinya
nabi menemukan semangatnya

apakah sudah saatnya aku mencari sosok siti khodijah....?
apakah sudah waktunya...?
diri hanya bisa tertawa
ditemani sang malam yang mulai tergilas pagi
di temani bintang dan rembulan di atas sana
di temani angin malam yang menusuk tulang
seakan mereka berbisik.

semangat....!